Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Sunday, February 26, 2006

La Métamorphose, Franz Kafka

[La Métamorphose, novel Franz Kafka, ditulis tahun 1912. Buku yang saya baca adalah buku terbitan Flammarion, 1999. Diterjemahkan dari Die Verwandlung oleh Bernard Lortholary. Buku ini dilengkapi oleh pengantar dan penutup oleh Loïc Marcou]

La Métamorphose adalah perkenalan saya pada Kafka. Selama ini selau saja ragu untuk membaca Kafka, karena saya tidak bisa membaca bahasa Jerman, bahasa asli karya Kafka. Tapi, akhirnya saya coba baca, sebenarnya terpengaruh dari buku Haruki Murakami, Kafka on the shore atau Kafka sur le rivage, yang ingin saya baca.

Tokoh utama novel ini bernama Gregor Samsa. Nama Samsa tak lain adalah bentuk lain dari Kafka. Novel ini memang diambil dari kehidupan sang penulis. Suatu pagi, ketika Gregor terbangun, ia bermetamorfosa menjadi sebuah serangga besar. Meski berubah menjadi serangga, Gregor tetap berpikir seperti layaknya manusia, meski tak dapat lagi berkomunikasi secara normal. Orang tuanya dan saudara perempuannya pada akhirnya tak mampu menanggung kenyataan bahwa mereka harus berbagi dengan seekor serangga, meski si serangga tak lain adalah anggota keluarga mereka sendiri. Lihat saja reaksi Grete, saudara perempuannya yang memindahkan hampir seluruh mebel dari kamar Gregor. Atau juga agresi ayahnya yang mengakibatkan cedera parah bagi Gregor.

Begitulah, novel ini menggambarkan kisah seseorang yang terasingkan, yang tidak diterima oleh lingkungan tempatnya hidup, tapi tak mampu untuk keluar dari lingkungan tersebut. Murung. Sangat murung, tentu saja. Mungkin juga agak menyakitkan, dan mestinya taklah sulit untuk memproyeksikan kejadian serupa dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata.

Metamorfosa seseorang menjadi makhluk lain bukanlah barang baru. Sejak zaman antik kita sudah mendapatkannya, misalnya di Odyssey-nya Homer. Kita juga sudah tahu dengan baik tema metamorfosa lain yang diangkat oleh Charles Perrault dalam Cinderella (1697). Tak lupa kita akan tambahkan metamorfosa yang dialami oleh Alice dalam Alice in the Wonderland oleh Lewis Carroll (1865).

Tapi, Metamorfosanya Kafka tentu saja memiliki keunikannya sendiri. Pertama-tama karena tema keterasingan dan ketakberdayaan menghadapi keterasingan tersebut, menjadikannya cukup unik. Lalu kedua, bahwa cerita ini tak lain dari autobiografi penulis, jadi percampuran yang lebih terasa antara dunia nyata dan dunia khayal ciptaan Kafka terasa lebih dibandingkan yang lain.

Novelet ini menarik, agak sulit dibaca, mungkin karena pemilihan kata oleh penerjemah (mungkin juga di novel aslinya) yang terkadang agak sulit. Tapi, tetap saja, dia menarik untuk dibaca dan direnungkan...

Posting kali ini cukup pendek. Pertama-tama karena novelnya pendek, lalu kedua saya masih tidak yakin dengan cara saya membaca Kafka. Mungkin butuh karya lainnya untuk dapat berkomentar lebih baik.


Read more/ Suite / Selengkapnya!

o

Saturday, February 25, 2006

Fuir , Kabur, Flee, Jean-Philippe Toussaint


[Fuir, Kabur, novel Jean-Philippe Toussaint, diterbitkan oleh Les Editions de Minuit tahun 2005. Novel dibagi dalam tiga bagian, 186 halaman. Novel ini memenangi Medicis 2005]

Membaca Fuir cukup menyenangkan. Cara bercerita Toussaint, yang disebut-sebut sebagai penulis avant-gardist, cukup menimbulkan sensasi tersendiri bagi saya yang membacanya. Dengan penggunaan tanda baca, koma, titik, paragraf kosong, dan tanda kurung, yang menyarankan ritme pembacaan pada pembacanya, sekaligus menyediakan konteks pembacaan membuat Fuir enak dibaca, tapi mungkin tidak perlu.

Tidak perlu, karena Fuir tidak berplot jelas, dan bukan sekedar berplot tak jelas, adegan yang satu dengan yang lain muncul secara begitu saja, tanpa ada penjelasan yang jelas, sangat 'natural', tanpa banyak peran narator. Dibandingkan dengan Echenoz, Toussaint mungkin lebih ekstrem dalam hal bahwa tak ada cerita yang layak untuk dinikmati seperti layaknya sebuah novel. Dia asyik bermain-main menggambarkan adegan yang satu dengan yang lain, berrinci-rinci di satu adegan, menutup-nutupi beberapa rincian, tapi tetap saja menjaga novelnya agar tetap lancar dibaca. Minimalis. Begitu kata orang tentang karya Toussaint. Mungkin karena ia tak berusaha menambahkan ornamen pada cara bertuturnya tentang satu kisah, bila dipikirnya penuturan itu sudah cukup.

Saya pun cukup kesulitan untuk menceritakan buku yang satu ini. Lalu apa yang harus saya ceritakan? Baiklah. Sedikit tentang ceritanya. Narator novel ini, tokoh aku, adalah seorang laki-laki. Dia mulai muncul di bagian pertama tak lama setelah mendarat di bandara Shanghai, Cina, untuk sebuah perjalanan bisnis, tapi tak jelas bisnis apa. Di sana dia mengenal Zhang Xiangzhi, rekan bisnis Marie, teman perempuan narator. Bagian pertama bercerita tentang kisah cinta narator dengan seorang wanita cantik Cina bernama Li Qi. Mereka bahkan bercinta di sebuah kamar kecil di kereta api selagi dalam perjalanan dari Shanghai ke Peking. Bagian kedua, masih di Cina, bercerita tentang persaingan narator dengan Zhang Xiangzhi dihiasi dengan berbagai adegan, terutama adegan di ruang bowling, dan adegan kejar-kejaran bermotor. Bagian ketiga, bagian paling menarik, menceritakan hubungan narator dengan Marie, mengambil setting di pulau Elba, Italia.

Lalu apa lagi? Narasinya, tentu saja. Cukup kreatif, terutama di bagian ketiga, ketika Marie berusaha mencari-cari sang narator. Sang narator, yang dicari Marie, tapi mampu menceritakan apa yang terjadi dengan Marie selagi mencarinya, menceritakan pencarian itu dengan cukup menarik, hingga menimbulkan sensasi tersendiri, tanpa dapat jelas konteks narasi.
"Dia angkat perlahan kacamata hitamnya, dan berputar-putar untuk menemukan saya dalam matanya. Tapi, di mana saya?"
Perhatikan kalimat "Tapi, di mana saya" yang menarik. Begitulah. Banyak penyampaian narasi yang disampaikan dalam bentuk serupa dan mengejutkan, dan menarik, dan menyenangkan.

Tapi, entahlah. Ada tempat di mana dia berpanjang-panjang, tanpa benar-benar ada yang dia ceritakan. Deskripsi, deskripsi, dan deskripsi, akan kita temukan dengan dalam novel ini dengan diksi yang menarik. Tapi, secara umum, saya pikir buku ini layak untuk dibaca, cukup menyenangkan, karena minimalis.Pembacanya dibawa berjalan-jalan ke Cina dan Elba, dihiasi humor yang segar, yang sedikit segar, sekaligus yang pahit.

*

Novel Jean-Philipe Toussaint yang lain, La Salle de bain yang bersetting di Jepang berhasil meraih sukses yang luar biasa di Jepang. Terjual di atas 100 ribu kopi. Kali ini, dalam Fuir bersetting Cina dan Elba, entahlah apakah dia akan kembali meraih sukses yang sama dengan La Salle de bain ?

Lalu bagaimana dengan Saturday nya Ian McEwan? Les Miserables? Waduh. Bacaan Les Miserables sebenarnya sempat mengalami percepatan, sekarang sedang berkisah tentang Marius, jadi ada di sekitar halaman 1030 an. Tapi, kemudian melambat, karena kesibukan lain, dan harus mengalah dengan buku yang bertebal 1/8 nya, Fuir. Sedang Saturday nya McEwan, segera dibaca. Tapi, sepertinya akan terdahului oleh buku lain, yang akan jadi kejutan, nantikan saja dalam dua atau tiga hari lagi ya.


Read more/ Suite / Selengkapnya!

o

Thursday, February 16, 2006

Je m'en vais, Aku pergi, Jean Echenoz

[Je m'en vais, atau Aku Pergi novel Jean Echenoz, diterbitkan pertama kali oleh Les Editions de Minuit tahun 1999. Tebal: 253 halaman. Versi bahasa Inggris buku ini berjudul I'm Gone oleh New Press, 2002].

"Aku pergi." Begitu kalimat pertama dalam novel ini. "Aku pergi". Begitu kalimat terakhir novel ini. Begitulah kalimat pembuka dan penutup yang dibuat simetris. Bukan hanya kalimat pembuka dan penutup, tapi juga adegan. Novel dibuka dari sebuah rumah, saat Ferrer, tokoh utama novel ini, meninggalkan rumah tersebut, lalu menuju ke stasiun metro Corentin-Celton. Novel diakhiri dengan Ferrer yang menuju rumah yang sama dari stasiun metro Corentin-Celton.

Mungkin tak cukup sampai di situ kesimetrisan dapat ditemukan dalam novel ini, tapi tentu saja, tak usah khawatir, novel ini tidak simetris secara total. Meski kita dapat menemukan hal lain yang simetris, tapi tidaklah simetris secara total. Jadi, jangan membaca dari tengah.

Karena membaca dari awal akan lebih menarik, yakni saat Ferrer meninggalkan istrinya, Suzanne pada sebuah malam bulan Januari.
"Je m'en vais. Je te quitte. Je te laisse tous, mais je pars".
(Aku pergi. Kita berpisah. Kutinggalkan semua untukmu, tapi aku pergi).
Begitu ucapnya pendek pada Suzanne, istrinya, seorang wanita berkarakter sulit. Ferrer, lelaki setengah baya, pemilik galeri seni di 9e arrondisement, kemudian meninggalkan istrinya, dan tinggal di galerinya. Sejak saat itu pula dikenalnya sejumlah wanita mulai dari Victorie, Jocelyne, Sonia, Berangere, Hélène, Elisabeth, dan juga Laurence. Hubungan dengan mereka rata-rata tak mudah: bertemu, bercinta dua tiga kali, lalu selesai. Sama juga dengan tak mudahnya menjalankan galeri yang tak lagi dipenuhi suara telepon atau ludahan kertas dari mesin faks. Serba sepi. Kesulitan ditambah lagi karena menurut spesialis Feldman, hidup Ferrer dalam keadaan bahaya serangan jantung. Ia harus berhenti merokok.
"Sejak saat itu jika sebelumnya hidupnya yang disisipi Marlboro seperti mendaki sebuah tali bersimpul banyak, maka setelah tidak merokok, hidupnya seperti menaiki tali yang sama tapi tanpa simpul".

Tak lama setelah perpisahannya dengan Suzanne, Ferrer dengan berani, karena menentang larangan Feldman akan suhu ekstrem, melakukan ekspedisi ke kutub utara, meninggalkan Paris, mengganti dekorasi hidupnya, yang kontrasnya ia lakukan untuk menyelamatkan hidupnya. Perjalanan yang menarik, di mana para pembaca di bawa ke daerah yang tak banyak dikunjungi orang meski lebih kurang diklaim oleh banyak negara. Di sana , Ferrer bekerja bersama dua guidenya Napaseekadlak dan Angoutretok . Mereka berdua mengajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri bila bertemu beruang putih: jangan berusaha berlari, tapi ingatlah bahwa beruang putih selalu kidal.

*

Novel ini bercerita dengan alur yang maju mundur secara waktu. Penyajian waktu yang berganti ini, menurut hemat saya, disampaikan dengan cukup cerdas, dan akhirnya membuat pembaca merasa lebih menikmati kisah yang disajikan. Perjalanannya ke kutub yang terseling hidupnya di Paris membuat pembaca semakin merasakan perubahan kehidupan yang dialami Ferrer.

Tapi, tentu saja yang paling menarik dari Jean Echenoz adalah gayanya. Dengan narator khasnya, yakni orang pertama yang datang sesekali, untuk kemudian hilang. Tapi, suatu saat sang narator aku ini berbicara cukup panjang, mengomentari Ferrer:

Tapi, bukankah sudah waktunya agar Ferrer menetapkan pilihannya? Apakah dia akan terus-terusan mengoleksi petualangan kecil yang dia sudah ketahui akhirnya sebelumnya, yang dia tak lagi membayangkan, tak seperti sebelumnya, apakah kali ini akan menjadi petualangan yang berhasil?

(Mais ne serait-il pas temps que Ferrer se fixe un peu? Va-t-il éternellement collectionner ces aventures dérisoires dont il connaît d'avance l'issue, dont il ne s'imagine même plus comme avant que cette fois-ci sera la bonne?)

Atau:
Jadilah ia tanpa wanita sama sekali, tapi kita tahu, itu tak akan berlangsung lama. Tak perlu menunggu lama.
Nah kan, apa yang saya bilang tadi, belum dua hari berlalu, sudah ada satu sekarang.
(Il se trouverait alors supérieurement sans plus de femme du tout mais on le connaît, cela ne saurait durer. Ca ne devrait pas tarder. Et tiens, qu'est-ce qu'on disait, deux jours n'ont pas passé qu'en voila déjà une)

Dan masih banyak lagi kejutan-kejutan yang menunggu sepanjang novel ini, yang membuat novel ini menarik untuk dibaca, mungkin dengan agak mengerutkan muka, tapi kejutan-kejutan yang muncul akan membuat pembacanya tersenyum, dan terhibur tentu saja.

Diksi novel ini lebih puitis dan menarik ketimbang novel sebelumnya, Les grandes blondes, membuatnya agak lebih berat, tapi mungkin membuatnya lebih berkesan.

*

Novel ini meraih Goncourt, penghargaan tertinggi untuk karya sastra di Prancis, pada tahun 1999.


Read more/ Suite / Selengkapnya!

o

Sunday, February 12, 2006

Les amants du spoutnik, Haruki Murakami

[Les Amants du spoutnik, novel Haruki Murakami, diterbitkan di Prancis oleh Belfond, tahun 2003. Diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dari Jepang oleh Corinne Atlan. Tebal: 276 halaman. Versi bahasa Inggris buku ini berjudul Sputnik Sweetheart ]


APA yang membuat sebuah karya enak dinikmati? Apa yang membuat lembar-lembar novel tak bisa ditinggalkan dan seolah memanggil untuk kembali membacanya, dan kemudian merajuk ketika kita tinggalkan karena tak mampu lagi berkonsentrasi dan melahap kalimat demi kalimat yang disuguhkan di dalamnya? Mungkin akan ada sejumlah teori, sejumlah hipotesis, dan sejumlah cerita yang mampu lebih kurang menjawab pertanyaan ini, tanpa akhirnya benar-benar menjawab. Mungkin akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain atas jawaban yang diberikan, yang mestinya hanya akan memuaskan sedikit saja. Posting kali ini tidak cukup ambisius untuk berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hanya ingin bercerita bahwa membaca Les amants du spoutnik atau Spoutnik Sweethearts sangat menyenangkan, dan tak banyak rajukan yang tercipta karena tak sering buku ini tertinggal begitu mulai pembacaan, sambil mereka-reka muasal sensasi menyenangkan yang tercipta itu.


Mengapa menyenangkan? Bukankah begitu pertanyaannya? Mungkin karena karakter-karakter dalam novel ini begitu dekat dengan para pembacanya. Pembaca Murakami mungkin adalah pembaca novel-novel lain, pendengar musik, orang yang suka bepergian (atau minimal suka berangan untuk bepergian) sehingga begitu Murakami megacu novel-novel lain dalam novelnya, menyebut komposisi musik membuat pembacanya segera merasa nuansa yang tercipta. Belum lagi tentang tempat-tempat yang dikunjungi, dan makanan-makanan yang dinikmati para tokohnya. Semua itu menyatu dan menciptakan ketakjuban bagi para pembacanya, saya di antaranya.

Jack Kerouac (suatu hari nanti karyanya akan tampil di blog ini, janji saya pada diri sendiri), penulis yang terkenal dengan On the road adalah penulis yang disukai oleh Sumire, karakter utama novel Les amants du spoutnik ini. Sumire adalah seorang penulis muda dan berbakat dan seorang pembaca novel sejati. Ia tak dapat lepas dari buku On the road dan Lonesome traveller Jack Kerouac ini. Setiap kali ada kesempatan, diulangnya bagian-bagian yang paling menyentuh dari novel dari penulis yang satu ini. Inilah bagian yang sangat ia sukai, bagian dari Lonesome traveller

Tak seorangpun akan meraih eksistensinya tanpa mengenal sekali saja kesendirian yang baik ini, meski ia membosankan, dalam sebuah tempat tak berpenghuni; kita hanya bergantung hanya pada diri kita sendiri, dan dengannya kita dapat mengenal kemampuan kita yang sesungguhnya dan masih tersembunyi.

Bagi Sumire menulis adalah kebutuhan. Ia mencitakan sebuah roman. Setiap hari ia menghasilkan tulisan di komputer laptopnya, tapi tanpa pernah benar-benar berhasil menghasilkan sebuah tulisan yang utuh untuk roman yang dicitakannya itu. Ia merasa ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang tak ia miliki, sesuatu yang akan menjadikannya penulis sungguhan.

Sumire bukanlah seorang gadis pesolek. Tak pernah berrias, berpakaian seenaknya, tinggal di apartemen sempit, hidup seenaknya (a la Jack Kerouac?). Dia bukanlah seorang gadis yang menarik, biasa saja.

Tapi tidak buat K. K, narator utama novel ini, seorang laki-laki, guru muda, juga seorang penggemar novel, juga dari berbagai genre, klasik, avant-garde. Ia berhubungan dengan banyak perempuan, kebanyakan berusia jauh lebih tua darinya, termasuk dari orang tua muridnya sendiri. Meski demikian, K jatuh cinta pada Sumire, demikian juga sebaliknya. Hanya saja, Sumire mencintai K. tanpa menginginkan hubungan fisik dengannya, tapi tidak sebaliknya. K mencintai dan menginginkan Sumire secara fisik.

Karena Sumire jatuh cinta dan menginginkan hubungan fisik dengan Miu, seorang wanita berdarah Korea-Jepang. Miu adalah seorang pengusaha, pemilik perusahaan, terutama impor anggur dari Eropa, Prancis dan Italia. Ia sering bepergian untuk keperluan bisnisnya, terutama ke Eropa, tentu saja. Masa mudanya cukup misterius, tak banyak yang dapat diketahui darinya, selain bahwa ia pernah menikah, pernah belajar piano di Prancis, dan sempat menjadi pianis, untuk kemudian, secara tiba-tiba meninggalkan semuanya.

Miu bukanlah seorang pembaca buku, paling tidak, ia tidak banyak membaca buku saat dia bertemu Sumire. Kerouac disebutnya sebagai pencetus kelahiran aliran spoutnik, bukan beatnik, sesuatu yang membuat Sumire dan Miu tergelak pada pertemuan awal mereka, dan mencairkan hubungan antara keduanya: spoutnik yang bukan beatnik. Miu akhirnya mencitai Sumire juga, tapi tak ingin berhubungan fisik dengannya.

Miu menawarkan Sumire pekerjaan sebagai sekretarisnya, yang tentu saja diterima oleh Sumire karena ia sangat suka, jatuh cinta, pada Miu. Sejak saat itu hidup Sumire berubah. Dia tak lagi banyak menulis, dan lebih banyak bekerja bersama dan untuk Miu. Dikuasainya bahasa asing, terutama Italia, selain Spanyol yang telah ia kuasai sebelumnya. Karena kemampuannya inilah, Miu mempercayainya untuk melakukan perjalanan bisnis ke Eropa. Perjalanan yang sangat menarik dan menyenangkan.

Sampai satu saat di musim panas, ketika telepon K. berdering dan mengabarkan sesuatu yang gawat, yang memaksanya untuk terbang ke sebuah pulau indah, di Yunani.

*

Kekuatan novel ini berada pada tema: cinta yang tak termanifestasi, cinta yang melukai, cinta yang memunculkan kerapuhan hidup manusia. Dengan percintaan membingungkan dan rumit antara K, Miu, dan Sumire, pembaca dibawa kedalam keintiman setiap tokoh itu, dan tersihir oleh kemampuan penulisnya untuk menciptakan efek-efek yang dibuatnya dari cerita ini. Permainan simbol, percampuran antara mimpi dan kenyataan, memanjakan (atau menyiksa?) pembacanya, yang sudah dibuat dekat dengan para karakter melalui identifikasi karya-karya favorit tiap karakter, untuk kemudian memaksa pembacanya mengikuti kisah yang kuat dan menarik ini.

Kita dibawa ke bagian terintim, bagian paling tersembunyi setiap karakter. Keintiman inilah yang saya duga membuat novel ini begitu kuat.

Hanya sayangnya, membaca Murakami seolah membaca sebuah novel Eropa dengan karakter-karakter mengenakan nama Jepang. Deskripsi tentang Tokyo tak sekuat deskripsinya tentang pulau Yunani, tempat Miu dan Sumire bersama-sama, misalnya. Hampir tak ada penulis Jepang yang dikutip, baik oleh Sumire maupun K. Karena novel ini memang ditujukan (juga) untuk pembaca Eropa? Entahlah. Mengingatkan saya pada Orhan Pamuk yang juga tak banyak mengacu pada karya-karya Turki dalam Snow. Hanya saja, di novel ini, hampir tidak ada sesuatu yang khas Timur. Mungkinkah karena penulisnya sendiri lama tinggal di Amerika dan kehilangan kontak dengan sastra Jepang? Sayang.

*

O,ya. Mungkin ada yang bingung, kok tiba-tiba Murakami? Bukankah seharusnya sekarang giliran Je m'en vais nya Echenoz atau Trois jours chez ma mére nya Weyergans, atau bahkan Saturday nya Ian McEwan? Benar. Tapi, tiba-tiba saja saya mulai baca Les amants dan tak bisa berhenti. Begitulah, program di blog ini memang tak terlalu mengikat, hanya kira-kira, tapi nggak akan terlalu ngaco juga, kan?


Read more/ Suite / Selengkapnya!

o

Tuesday, February 07, 2006

Les grandes blondes Jean Echenoz

[Les Grandes Blondes, atau Para Pirang Yang Besar,novel Jean Echenoz, diterbitkan pertama kali oleh Les Editions de Minuit tahun 1995. Buku yang saya baca ini edisi Double, diterbikan juga oleh Editions de Minuit, Januari 2006. Tebal 251 halaman.
Edisi bahasa Inggris buku ini berjudul The Big Blondes]

Novel Les Grandes Blondes adalah novel Jean Echenoz ketujuh yang diterbitkan Les Editions de Minuit. Novel pertamanya diterbitkan tahun 1979. Penulis yang lahir tahun 1947 ini saat ini telah mengeluarkan 11 novel sejak saat itu, termasuk Ravel novel terbarunya (2006), Je m'en vais peraih Goncourt 1999, dan juga Cherokee peraih Medicis1983.

Selain karena baru terbit, Les Grandes Blondes saya pilih karena dalam buku La littérature française au présent karya Bruno Vercier yang merupakan salah satu referensi sastra Prancis kontemporer, bagian tentang Echenoz membahas khusus Les Grandes Blondes, bukan Je m'en vais misalnya. Vercier tertarik dengan narasi Echenoz yang unik dan kreatif.


Narasi Jean Echenoz memang sangat unik dan menyegarkan. Narator Jean Echenoz sering kali orang pertama. Tapi, sang narator hanya muncul menyebut dirinya sedikit saja. Lalu, terkadang sang narator menyapa dengan nakal pembacanya, seperti Anda meramalkan hal terburuk, kami bisa mengerti (Vous prévoyez le pire, on vous comprend) seolah mengejek pembacanya yang tengah berharap agar hal terburuklah yang terjadi pada adegan yang diacu. Belum lagi, deskripsinya yang khas, lagi-lagi dengan menyapa langsung pembaca:

Keesokan harinya, Anda seorang yang mencari Paul Salvador ...(dipotong). Anda masuk tanpa menarik perhatian... Di sebelah kanan, barisan luar biasa resepsionis dengan berbagai kuku, alis dan dada, di sebelah kiri tak satupun yang layak disebut. Di ujung, sejumlah lift. Lupakan resepsionis, lanjutkan ke lift. Anda menyebrangi aula, tak seorangpun menanyai Anda... Pasti mata Anda ingin jelalatan melihat para perempuan tak terstruktur yang bolak balik, lupakan juga, terus...
... Letakkan diri Anda di sebuah sudut. Tunggu. Apapun yang akan terjadi, Tak seorangpun akan memperhatikan Anda.

(Et le lendemain, vous etes quelqu'un qui cherche Paul Salvador... Vous entrez sans vous faire remarquer... A droite un rang d'exceptionnelles réceptionistes tout ongles, cils et seins, à gauche rien de particulier. Au fond, les ascenseurs. Oubliez les receptionnistes, foncez vers l'ascenseur.
Vous traversez le hall, nul ne vous demande rien... Sans doute votre oeuil souhaiterait aussi traîner sur toutes les filles déstucturées qui vont et viennent ici, mais négligez-les également, foncez...
...Postez-vous tranquillement dans un coin. Attendez. Quoi qu'il advienne, on ne va pas vous remarquer. )

Asyik bukan? Jadi, selain membuat deskripsi tentang ruangan Paul Salvador, sudut pandang juga dijelaskan, yakni dengan Anda yang berjalan menuju ruang Salvador. Mungkin kalau penulis lain akan menulis seperti ini:

Bila Anda masuk ke dalam gedung tempat Paul Salvador, begitu masuk Anda akan melihat barisan luar biasa resepsionis dengan berbagai kuku, alis dan dada, sedang di sebelah kiri tak ada satupun yang layak disebut. Di ujung, sejumlah lift. Untuk mencapai lift, Anda harus menyebrangi aula, yang begitu sibuk... Banyak perempuan tak terstruktur bolak-balik di jalan Anda.

Masih banyak lagi teknik bercerita yang menarik sekaligus nakal dan berdaya humor yang sangat tinggi dalam novel ini, membuat para pembacanya merasa tersegarkan.

Saya sengaja memulai dengan gaya narasi Echenoz, karena memang di sanalah kekuatan si penulis. Narasi dan narasilah yang akan mengejutkan pembaca, meski diksi juga membuat pembaca terhibur.

Novel ini sendiri bercerita tentang Gloria Stella, seorang gadis pirang, tapi tidak terlalu tinggi. Setelah suksesnya dalam dunia showbiz, ia mengalami kesulitan dan masuk penjara. Setelah keluar, ia menghilang. Sementara itu, sebuah perusahaan film ingin menjadikannya sebagai bintang. Dilacaklah keberadaan Gloria. Dikirimlah berbagai orang untuk mencari Gloria yang dengan sengaja bersembunyi dan melarikan diri dari mereka. Cerita kejar-kejaran antara orang-orang perusahaan film dan Glorialah yang menjadi plot utama novel ini.

Di dalamnya kita akan mengenal Jouve dan Salvador yang banyak uang. Gloire Abgrall yang ingin lari dari keterkenalan, dan hidup tenang. Béliard teman setia Gloire berkemampuan luar biasa. Si kocak tapi bodoh Kastner dan Boccara sang asisten detektif, dan akhirnya Personnetaz, orang bayaran Salvador, tampaknya ahli melacak jejak orang yang ingin menghilangkan diri.

Dengan membaca Les Grandes Blondes akan dibawa berjalan-jalan mulai dari berbagai tempat di Prancis seperti Bretage dan Paris sampai ke Bombay dan Sydney. Berbagai orang akan kita temui. Mulai penjaga bar, dokter, pengemudi rickshaw, perawat, pramugari, sampai pengacara. Semua disampaikan dalam bahasa yang menyegarkan dan sedikit puitis juga. Anda akan senyam-senyum atau mungkin tertawa dibawa cerita Echenoz. Anda mungkin menangis, tergantung, bila Anda membaca hal-hal yang menyentuh di dalam novel ini dekat dengan cerita Anda. Coba saja baca.

Membaca novel ini mungkin membutuhkan keterbukaan pikiran, dan terutama kemauan menerima hal-hal baru. Pembaca penggemar isi cerita mungkin akan terkecewakan oleh novel ini. Tapi, silahkan coba kalau berani.


Read more/ Suite / Selengkapnya!

o

Sunday, February 05, 2006

Février, demandez le programme


Ouah. Pourquoi ce retardement? Je sais, mais voilà je suis de retour.
Woh. Kenapa nih terlambat? Saya tahu, tapi ini dia, saya kembali.

Ini ketiga kalinya saya membuat judul post dengan bentuk ... demandez le programme. Apa sih artinya? Artinya, di post semacam ini, saya bakal menampilkan program bulan ini. Misalnya bulan ini, Februari, bahasa Prancisnya Février. Demandez le programme sendiri ungkapan untuk meminta program (demandez = silahkan minta).

Februari. ada apa yah bulan Februari? Baiklah, kita ambil yang satu ini saja. Bulan Februari adalah bulan yang menjadi setting novel Snownya Orhan Pamuk. Bulan di mana seorang penyair Ka, berkunjung ke Kars, sebuah kota perbatasan dengan Armenia.

Bulan Februari sebenarnya adalah bulan menarik secara ekonomi, tapi karena beberapa hal, terpaksa saya tidak akan banyak belanja buku bulan ini. Tapi, dengan hanya mengandalkan buku yang ada, rasanya cukup bisa memenuhi blog ini.


Les Miserables, Echenoz, dan Weyergans atau Céline?

Baik. Kita mulai saja. Di post yang terdahulu, saya bilang bahwa kita bakal meninggalkan Turki dan menuju ke Barat, ke Prancis. Memang betul itu. Tapi, sepertinya kita akan lebih berlama-lama di Prancis, sebelum terbang lagi. Pertama-tama the eternal Les Miserables yang tidak kunjung tamat. Sudah halaman 780 sekarang. Masih belum setengahnya. Tentu saya tidak akan biarkan blog ini kosong selama pembacaan Les Miserables.


Ada dua buku Jean Echenoz yang bakal saya baca berbarengan dengan Les Miserables, judulnya berurutan Les Grandes blondes (1995) dan Je m'en vais (1999). Siapa ini? Nah Jean Echenoz adalah penulis dengan gaya yang disebut-sebut sebagai post modern, avant garde, dan sering disebut-sebut bersamaan dengan Toussaint. Ia banyak bermain-main dengan bentuk, dan teknik narasi yang paling mutakhir. Buku-bukunya diterbitkan oleh Edition Minuit, yang terkenal banyak menerbitkan buku avant-gardist dengan resiko sedikit pembeli. Ia sendiri memenangkan Goncourt dengan Je m'en vais nya. Sebelumnya ia telah memenangkan Renaudot dengan Cherokee, sebuah novel detektif (tapi tetap avant-gardist?). Les grandes blondes adalah buku representatif untuk menggambarkan gayanya, bahkan lebih representatif dari Je m'en vais.

Setelah selesai dengan Echenoz, kita akan kembali ke Weyergans, bersantai-santai dulu dengan yet another eternal Trois jours chez ma mére, yang selalu saja tersalip dengan yang lain. Kali ini, ia mungkin akan disalip oleh Louis-Ferdinand Céline, Voyage au bout de la nuit, buku klasik lagi.

Mungkin akan ada cerita sedikit tentang Faulkner sebelum Weyergans, seperti yang saya janjikan sebelumnya.

Dan...

Kalau masih survive dengan semua itu, masih ada Saturday Ian McEwan dan The Plot Against America Philip Roth. Cukup bukan? Bagaimana dengan Pamuk? Kita lihat saja nanti. Mon nom est rouge sepertinya ditunda dulu, tapi Le livre noir tetap bisa dibaca. Mungkin setelah Saturday dan sebelum The Plot Against America. Bagaimana dengan The Kite Runner? Ditunda juga.

Di sisi non fiksi saya sudah mulai membaca buku David Simpson The Academic Postmodern and the Rule of Literature. Tapi, tidak bisa janji kapan bisa munculan obrolannya di blog ini.


Read more/ Suite / Selengkapnya!