Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Thursday, February 16, 2006

Je m'en vais, Aku pergi, Jean Echenoz

[Je m'en vais, atau Aku Pergi novel Jean Echenoz, diterbitkan pertama kali oleh Les Editions de Minuit tahun 1999. Tebal: 253 halaman. Versi bahasa Inggris buku ini berjudul I'm Gone oleh New Press, 2002].

"Aku pergi." Begitu kalimat pertama dalam novel ini. "Aku pergi". Begitu kalimat terakhir novel ini. Begitulah kalimat pembuka dan penutup yang dibuat simetris. Bukan hanya kalimat pembuka dan penutup, tapi juga adegan. Novel dibuka dari sebuah rumah, saat Ferrer, tokoh utama novel ini, meninggalkan rumah tersebut, lalu menuju ke stasiun metro Corentin-Celton. Novel diakhiri dengan Ferrer yang menuju rumah yang sama dari stasiun metro Corentin-Celton.

Mungkin tak cukup sampai di situ kesimetrisan dapat ditemukan dalam novel ini, tapi tentu saja, tak usah khawatir, novel ini tidak simetris secara total. Meski kita dapat menemukan hal lain yang simetris, tapi tidaklah simetris secara total. Jadi, jangan membaca dari tengah.

Karena membaca dari awal akan lebih menarik, yakni saat Ferrer meninggalkan istrinya, Suzanne pada sebuah malam bulan Januari.
"Je m'en vais. Je te quitte. Je te laisse tous, mais je pars".
(Aku pergi. Kita berpisah. Kutinggalkan semua untukmu, tapi aku pergi).
Begitu ucapnya pendek pada Suzanne, istrinya, seorang wanita berkarakter sulit. Ferrer, lelaki setengah baya, pemilik galeri seni di 9e arrondisement, kemudian meninggalkan istrinya, dan tinggal di galerinya. Sejak saat itu pula dikenalnya sejumlah wanita mulai dari Victorie, Jocelyne, Sonia, Berangere, Hélène, Elisabeth, dan juga Laurence. Hubungan dengan mereka rata-rata tak mudah: bertemu, bercinta dua tiga kali, lalu selesai. Sama juga dengan tak mudahnya menjalankan galeri yang tak lagi dipenuhi suara telepon atau ludahan kertas dari mesin faks. Serba sepi. Kesulitan ditambah lagi karena menurut spesialis Feldman, hidup Ferrer dalam keadaan bahaya serangan jantung. Ia harus berhenti merokok.
"Sejak saat itu jika sebelumnya hidupnya yang disisipi Marlboro seperti mendaki sebuah tali bersimpul banyak, maka setelah tidak merokok, hidupnya seperti menaiki tali yang sama tapi tanpa simpul".

Tak lama setelah perpisahannya dengan Suzanne, Ferrer dengan berani, karena menentang larangan Feldman akan suhu ekstrem, melakukan ekspedisi ke kutub utara, meninggalkan Paris, mengganti dekorasi hidupnya, yang kontrasnya ia lakukan untuk menyelamatkan hidupnya. Perjalanan yang menarik, di mana para pembaca di bawa ke daerah yang tak banyak dikunjungi orang meski lebih kurang diklaim oleh banyak negara. Di sana , Ferrer bekerja bersama dua guidenya Napaseekadlak dan Angoutretok . Mereka berdua mengajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri bila bertemu beruang putih: jangan berusaha berlari, tapi ingatlah bahwa beruang putih selalu kidal.

*

Novel ini bercerita dengan alur yang maju mundur secara waktu. Penyajian waktu yang berganti ini, menurut hemat saya, disampaikan dengan cukup cerdas, dan akhirnya membuat pembaca merasa lebih menikmati kisah yang disajikan. Perjalanannya ke kutub yang terseling hidupnya di Paris membuat pembaca semakin merasakan perubahan kehidupan yang dialami Ferrer.

Tapi, tentu saja yang paling menarik dari Jean Echenoz adalah gayanya. Dengan narator khasnya, yakni orang pertama yang datang sesekali, untuk kemudian hilang. Tapi, suatu saat sang narator aku ini berbicara cukup panjang, mengomentari Ferrer:

Tapi, bukankah sudah waktunya agar Ferrer menetapkan pilihannya? Apakah dia akan terus-terusan mengoleksi petualangan kecil yang dia sudah ketahui akhirnya sebelumnya, yang dia tak lagi membayangkan, tak seperti sebelumnya, apakah kali ini akan menjadi petualangan yang berhasil?

(Mais ne serait-il pas temps que Ferrer se fixe un peu? Va-t-il éternellement collectionner ces aventures dérisoires dont il connaît d'avance l'issue, dont il ne s'imagine même plus comme avant que cette fois-ci sera la bonne?)

Atau:
Jadilah ia tanpa wanita sama sekali, tapi kita tahu, itu tak akan berlangsung lama. Tak perlu menunggu lama.
Nah kan, apa yang saya bilang tadi, belum dua hari berlalu, sudah ada satu sekarang.
(Il se trouverait alors supérieurement sans plus de femme du tout mais on le connaît, cela ne saurait durer. Ca ne devrait pas tarder. Et tiens, qu'est-ce qu'on disait, deux jours n'ont pas passé qu'en voila déjà une)

Dan masih banyak lagi kejutan-kejutan yang menunggu sepanjang novel ini, yang membuat novel ini menarik untuk dibaca, mungkin dengan agak mengerutkan muka, tapi kejutan-kejutan yang muncul akan membuat pembacanya tersenyum, dan terhibur tentu saja.

Diksi novel ini lebih puitis dan menarik ketimbang novel sebelumnya, Les grandes blondes, membuatnya agak lebih berat, tapi mungkin membuatnya lebih berkesan.

*

Novel ini meraih Goncourt, penghargaan tertinggi untuk karya sastra di Prancis, pada tahun 1999.

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

ini novel lain echenoz yg lain lagi?

5:20 pm  
Blogger anriz said...

Ya betul, ini yang lain lagi, terbit tahun 1999.
Masih ada satu lagi novel Echenoz yang ngantri, mungkin bakal diobrolin bulan depan.

7:51 am  

Post a Comment

<< Home