Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Saturday, December 02, 2006

Bret Easton Ellis (5/5 - habis): Blank Fiction


+ Ellis dikenal memperkenalkan jenis fiksi baru?
- Ya. Namanya blank fiction, atau fiksi kosong. Sering disebut juga breatpack. Novel-novel breatpack dapat dikenali dari temanya yang berbicara tentang dekadensi dan kebrutalan sosial. Sering pula disebut 'fiction of insurgency', 'new narrative', 'blank generation fiction', 'downtown writing', 'punk fiction', 'downtown writing', 'punk fiction'.

+ Ellis satu-satunya penulis fiksi kosong?
- Tidak, tapi dia merupakan tokoh sentralnya, bersama dengan Jay McInerney. Selain mereka berdua ada sederetan penulis lain yang dianggap beraliran fiksi kosong: Donna Tartt, Susanna Moore, Douglas Coupland, Sapphire, Katherine Texier, Mark Leyner, Ray Shell, Evelyn Lau, Dennis Cooper, Lynne Tillman, Gary Indiana, Don Delillo, and Joel Rose. Mereka semua menulis fiksi yang berfokus pada kehidupan anak muda Amerika (20-30 tahun), bercerita tentang kehidupan kota dan berfokus pada hubungan antara individual dan budaya konsumerisme. Yang juga khas dari mereka adalah alur cerita yang lebih lemah, tidak kuat seperti Toni Morisson misalnya. Alur novel mereka juga semakin memperkuat kesan kosong, karena hampir tidak ada awal, tengah, dan akhir yang kuat. American Psycho dan Less Than Zero misalnya, lebih mirip seperti kumpulan cerpen ketimbang novel yang utuh. Meski begitu, tetap saja kedua novel itu lebih berarti bila dibaca dari awal sampai akhir, tidak acak seperti kumpulan cerpen.

+ Jadi ciri khas fiksi kosong adalah kekerasan, konsumerisme, seks, dan narkotika?
- Ya. Narkotika mungkin hanya khas Ellis, karena penulis yang lain tidak sekuat Ellis dalam bercerita tentang narkotika. James Annesley dalam bukunya Blank Fictions menyebut lima tema penting fiksi kosong: kekerasan, seks, shopping, merek, dekadensi.

+ Kekerasan dan seks sebenarnya bukan dominasi fiksi kosong?
- Betul. Kita kenal banyak film yang mengangkat kekerasan dan seks ekstrem. Quentin Tarantino dengan Pulp Fictionnya dan Kill bill misalnya. Lalu kita bisa sebut juga Sin City. Lalu ada juga Sex, Lies, and Videotape karya Soderberg, Crash karya David Cronenberg, masih banyak lagi.

+ Anda menyebut Jay McInerney. Ellis dan McInerney sepertinya saling kenal?
- Ya. Mereka berdua sepertinya bersahabat baik. Bukan saja mereka bekerja untuk penerbit yang sama, mereka berdua dapat dikatakan sebagai pendiri fiksi kosong tahun 80-an.

+ Sudah baca McInerney?
- Belum. Tapi tertarik tentu saja. A Good Life novel McInerney terbaru yang muncul tahun 2006 mendapat sambutan sama baiknya dengan Lunar Park. Tapi karya McInerney yang terkenal itu Bright Lights, Big City (1986) dan Brightness Falls (1992). McInerney dan Ellis menggunakan simbol-simbol yang sama seperti kokain, Wall Street, dan pakaian bermerk. Mereka berdua disebut Annesley banyak mengangkat politik deregulasi dan pasar bebas Reagan.

+ Ellis bahkan menggunakan tokoh-tokoh yang muncul di novel McInerney.
- Ya. Tokoh Alison Poole yang diciptakan McInerney dalam novelnya, Story of My Life (1988), digunakan dalam Glamorama. Lebih jauh lagi, McInerney sendiri menjadi salah satu tokoh dalam Lunar Park. Tidak mengejutkan memang, karena Lunar Park bercerita tentang Bret Easton Ellis sendiri.

+ Seluruh penulis fiksi kosong menggunakan sudut pandang orang pertama?
- Saya kurang tahu, tapi seluruh novel Ellis menggunakan sudut pandang orang pertama. Menurut saya dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kita bakal semakin lebih masuk ke dalam fiksi Ellis. Seperti yang saya sebut, dengan sudut pandang orang pertama kita semakin merasakan karakter kosong Patrick Bateman di American Psycho yang suka melupakan tokoh-tokoh di novel itu. Sudut pandang orang pertama yang tidak berusaha membangun cerita yang utuh, tapi lebih bertutur untuk bertutur, narator yang tidak bisa dipercaya, semakin memperkuat kesan kosong novel Ellis.

+ Ellis sendiri berpendapat seperti itu?
- Dalam sebuah wawancaranya Ellis pernah ditanya mengapa dia selalu menulis dari sudut pandang orang pertama. Ellis jawab karena dia menulis bukunya dengan cara lebih emosional ketimbang intelektual. "Saya selalu mulai dari sensasi dan sentimen. Keduanya kemudian berubah menjadi ide dan akhirnya menjadi tokoh. Saya membangun buku saya berdasarkan itu semua: cara narator saya melihat tokoh-tokoh lain, hal-hal di sekelilingnya, apa yang menarik baginya, dan cerita yang akan datang padanya."

+ Anda tadi menyebut James Annesley dan bukunya "Blank Fictions". Selain buku itu ada bahan lain yang menarik tentang Ellis?
- Karya Thomas Fenaert "Emptiness in the novels by Bret Easton Ellis" yang bisa diakses di Internet juga menarik: http://angellier.biblio.univ-lille3.fr/etudes_recherches/memoire_fenaert.html.

+ OK, kita hampir selesai. Mau memberi kutipan-kutipan lagi?
- Ya. Lagi-lagi dari American Psycho. Ada yang belum saya kutipkan di sini, yaitu adegan pembunuhan. Ini dia salah satu adegan pembunuhan. Di kutipan ini kita bisa lihat pentingnya peran narator dan juga kaitan yang erat antara konsumsi dan kekerasan:
"In an attempt to understand these girls I'm filming their deaths. With Torry and Tiffany I use a Minox LX ultraminiature camera that takes 9.5mm film, has a 15mm f/3.5 lens, an exposure meter and a built in neutral density filter and sits on a tripod".

+ Wah, ya, ya. Saya setuju sekali. Itu tadi campuran antara katalog kamera dan kekerasan.
- Ya. Patrick Bateman tidak lagi bisa membedakan antara dunia nyata manusia dengan katalog. Dia melakukan pembunuhan sambil merinci-rinci spesifikasi teknis kamera.

+ Ada lagi?
- Ya. Ini monolog Ellis yang merupakan gambaran apa yang ada di benaknya:
"Shirt from Charivari. Fussili I am thinking. Jami Gertz I am thinking. I would like to fuck Jami Gertz. Porche 911. A Sharpei I am thinking. I would like to own a Sharpei. i am twenty-six years old I am thinking. i will be twenty-seven next year. A Vallium. I would like a Valliam. No two Vallium I am thinking. Cellular phone I am thinking"


+ Ada kutipan soal merek?
- Ya. Ini dari Less Than Zero, perhatikan bahwa di sini merek mengambil peranan penting. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya tokoh-tokoh Ellis tidak memakai jas, tapi memakai Armani, tidak mengendarai mobil, tapi mengendarai BMW, tidak ke toko, tapi ke Neiman Marcus:
"My mother has spent most of this time probably at Neiman Marcus, and m siters have gone to Jerry Magnin ... I sit at the bar at La Scala Boutique bored out my mind, smoking, drinking red wine. Finally my mother drives up in her Mercedes and parks the car in front of La Scala and waits for me."

+ Tapi kutipan yang paling menarik ...
- This is No Exit, Dissapear here, dan People are afraid to merge.

+ Buku berikut Ellis?
- Kabarnya dia tengah menulis novel tentang Clay, tokoh yang muncul di Less Than Zero. Novelnya yang satu ini bisa dibilang menceritakan Clay dua puluh tahun kemudian.

+ Menarik. Ellis bisa mendapat Bookers atau Nobel?
- Jangan bercanda.

+ OK, OK. Ada lagi yang mau disampaikan?
- Sudah. Sudah cukup. Saya sedang cari buku McInerney, mudah-mudahan dapat.

+ O,ya. Sudah nonton film yang diangkat dari novel Ellis?
- Less Than Zero, ya.

+ OK. Mungkin kita bisa bahas di diskusi Apsas.
- Ya.

+ Terima kasih. Ada pintu ke luar?
- (Senyum).

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

wah udah lama ga muncul.. kemana aja nih :)

11:21 am  
Blogger anriz said...

Makasih masih mau berkunjung ya, sherlock.
Nggak ke mana-mana kok. Cuma, lagi agak sibuk aja, dan nggak sempet baca-baca buku sejak Agustus yang lalu.
Ini sekarang lagi lega dikit/

5:19 pm  

Post a Comment

<< Home