Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Tuesday, March 21, 2006

Ravel, Jean Echenoz

[Ravel, novel Jean Echenoz, 124 halaman, Januari 2006, diterbitkan oleh Les editions de minuit]

Novel ini, Ravel, adalah novel ketiga Jean Echenoz yang saya baca, dan yang muncul di blog ini. Dua sebelumnya, sebagai pengingat adalah Les Grandes blondes, dan Je m'en vais. Sayang Les Editions de Minuit, penerbitnya agak terlambat memberi tahu bahwa Echenoz hadir dalam Salon du Livre Paris kemarin, akibatnya saya tak bisa menemuinya. Padahal, seandainya mereka memberi tahu lebih awal, kami akan menyesuaikan jadwal kunjungan kami ke sana. Ya, tak apalah. Mungkin di lain kesempatan kami bisa menemuinya.

Ravel adalah sebuah fiksi yang terinspirasi dari tahun-tahun terakhir kehidupan pemusik Maurice Ravel (1875-1937) . Jadi, bukan biografi, ini fiksi. Echenoz memilih beberapa bagian dari kehidupan sang pemusik, merinci-rincikannya, dan kemudian meramunya menjadi novel dengan gaya khas Echenoz yang akan segera kita kenali.

Membaca Ravel pembaca diajak berjalan-jalan berkeliling Amerika Serikat di mana Ravel melakukan seri konser. Diceritakanlah perjalanannya di atas kapal pesiar France, kebosanan yang dia alami selama perjalanan dari Le Havre mampir ke Southampton untuk kemudian ke New York. Diceritakan pula bagasi yang dia bawa untuk perjalanan yang satu ini, kegiatannya membaca Conrad di dalam kapal, dan juga ketidaksukaannya memainkan piano (dia lebih suka mencipta komposisi, bukan memainkan). Selama di Amerika Serikat, Ravel memperoleh sambutan yang luar biasa dari satu kota ke kota lain, dia sedang berada di puncak karirnya.

Kemudian, sebuah cerita menarik tentang interaksinya -- sama sekali tidak menyenangkan -- dengan Paul Wittgenstein, seorang musisi, pianis, yang untuknya Ravel mencipta sebuah komposisi.

Novel ini lebih Je m'en vais dari pada Les Grandes blondes bila kita melihat dari kepahitan ceritanya, dari kebosanan eternal seorang laki-laki, kebosanan Ravel di sini, kebosanan Ferrer di Je m'en vais. Namun, dari sisi diksi, novel ini lebih Les Grandes blondes ketimbang Je m'en vais, karena pilihan kata Echenoz lebih sederhana di sini. Namun, tak seperti kedua novel itu, di sini Echenoz meninggalkan narator orang pertamanya, dan secara konstan menggunakan narator orang ketiga non partisipan.

Tapi, semua itu kontras dengan bagian akhir novel yang menceritakan keadaan kesehatannya di akhir hidupnya. Serba muram, dan sangat menyakitkan untuk dibaca. Sementara itu sepanjang novel hawa kesepian seorang Ravel sangat menyengat.

***

Tak lengkap untuk menceritakan sebuah novel Jean Echenoz tanpa menceritakan gayanya. Seperti yang saya sebut di atas, di novel ini dia tidak menggunakan narator aku nya yang suka muncul begitu saja. Tapi tetap saja, gaya khas penuh humor dan kejutan a la Echenoz sangat kental. Lihat bagaimana dia menceritakan bagaimana Ravel mengalami kesulitan tidur dan teknik-teknik yang digunakannya untuk dapat tidur: teknik-teknik untuk tidur yang digunakan muncul tersebar di beberapa bab buku ini, menimbulkan senyuman -- meski sering pahit -- pembacanya. Tapi, seperti di Les grandes blondes, narator berkali-kali menyapa pembacanya secara langsung. Lalu, sang narator juga memroklamirkan diri sebagai narator yang tak dapat dipercaya, dengan misalnya bertutur Sepertinya, dia mendengar seorang operator radiotelegram menyiulkan Bolero -- yang satu ini kita tidak harus percaya. Kocak, bukan?

Tapi, secara keseluruhan, novel ini agak pahit untuk dibaca, agak menyakitkan menyaksikan kesepian seorang genius macam Ravel, agak sakit menyaksikan akhir hidup yang tak menyenangkan ...

***

Saya beli buku ini di Carrefour Antibes, awalnya saya berniat beli di salon du livre Paris, tapi akhirnya beli di Carrefour, terkagum-kagum oleh posisinya sebagai salah satu best-seller saat itu. Tapi memang, Ravel bukanlah novel yang benar-benar berat, dapat dibaca dengan nyaman dan lancar: ada tema, plot, karakter, meski tak kuat. Karena yang kuat di Echenoz adalah gaya.

3 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Echenoz ini penulis favoritmu ya?

3:10 pm  
Anonymous Anonymous said...

Boh, tu aimes faire la lecture ...........

slt

espresso.over-blog.com

11:02 pm  
Anonymous Anonymous said...

This comment has been removed by a blog administrator.

5:37 am  

Post a Comment

<< Home