Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Sunday, March 19, 2006

Moderato Cantabile, Marguerite Duras

[Moderato Cantabile, sebuah novel Marguerite Duras, diterbitkan pertama kali oleh Les Editions de Minuit tahun 1958. 155 halaman, 8 bab. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Apsanti Djokosujatno, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, 1999]

Tema Moderato Cantabile adalah kehidupan seorang perempuan borjouis yang tidak merasa nyaman dengan lingkungan hidupnya, juga dengan suaminya, tapi tak dapat melarikan diri dari semuanya itu. Perempuan itu bernama Anne Desbaresdes, seorang istri dan seorang ibu dari seorang anak lelaki anonim.

Novel ini dimulai dari sebuah kursus piano yang diberikan oleh Mademoiselle Giraud kepada si anak lelaki Madame Desbaresdes. Sejak adegan pertama ini, pembaca akan dikenalkan pada karakter Anne Desbaresdes, yang tertekan, tak banyak bicara, dan sering menemukan alat bicaranya pada anaknya, yang lelaki. Dengan anak lelakinya pula, Anne menemukan kebebasan saat membawanya berjalan-jalan, meninggalkan rumah besarnya yang indah. Kemudian, kita akan segera disuguhi oleh sebuah adegan pembunuhan di kafé yang terletak tak jauh dari tempat kursus piano. Kafé ini kemudian menjadi tempat pembebasannya lagi, saat dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Chauvin, yang kemudian menjadi teman berbicaranya setiap kali ia mengunjungi kafé itu.

Percakapan demi percakapan antar Anne dan Chauvin, terseling anggur yang dikonsumsi Anne Desbaresdes untuk membangkitkan kemampuannya berbicara, membentuk novel ini. Percakapan-percakapan yang menarik, disajikan oleh Duras secara efektif, berhasil membangun suasana, dibantu oleh bolak dan baliknya para pengunjung kafé yang lain, agak repetitif tapi membentuk musikalitasnya tersendiri. Asyik.

Kita juga akan diajak melihat ke dalam lingkungan borjuasi Anne Desbaresdes. Bagaimana makan malam di rumahnya menjadi sesuatu yang sangat mengukungnya, menyulitkannya, yang tak dapat dikonsumsinya, yang ingin dimuntahkannya, yang akhirnya dimuntahkannya, bersama dengan keinginannya memuntahkan seluruh hidupnya yang tak lagi dapat dinikmatinya.

Semua itu disajikan dengan beberapa adegan repetitif. Saya telah menyebut bolak dan baliknya pengunjung kafé. Ada pula tenggelamnya matahari yang disampaikan secara repetitif, pergerakan kapal di pelabuhan yang tak jauh dari kafé yang juga repetitif, seolah Duras hendak menceritakan sesuatu dengan bernyanyi di mana beberapa nada muncul dan muncul lagi. Menarik.

Bila saya harus menyebutkan satu hal yang paling menarik semasa pembacaan dan sesudah pembacaan Moderato Cantabile, maka hal tersebut adalah keefektifan penceritaan. Novel yang hanya bertebal 155 halaman ini luar biasa efektif. Dia sangat efektif dalam pembentukan karakter, deskripsi, penokohan, dan penyampaian tema. Mungkin hampir tak ada plot, tak terlalu cepat, moderato, dan dapat dinyanyikan dengan enak, cantabile.

Tapi, hati-hati. Tak mudah membaca novel ini. Karena keefektifannya itu, sering kali saya dibuat tersesat oleh dialog-dialog dalam novel, berulang kali membaca beberapa bagian untuk membentuk konteks dialog-dialog tersebut. Tapi, di sanalah saya menemukan keindahan novel ini.

***

Novel ini saya baca selama perjalanan dari Cannes ke Paris dan selama beberapa hari di Paris, akhir pekan ini. Karena kesulitan memahami novel ini pada pembacaan pertama, saya dipaksa untuk membacanya ulang, dan pada pembacaan kedua inilah banyak bagian yang tak terpahami di pembacaan awal muncul lebih jelas.

Sulit bagi saya membayangkan bagaimana buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Konteks dialog yang sering didapatkan dari penggunaan kata il dan elle (dia untuk laki-laki dan perempuan) mungkin agak hilang begitu ia diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang hanya mengenal dia tanpa jenis kelamin. Ingin sekali membaca terjemahannya..

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

novel berat kayaknya kang, seperti biasa yg diresnsi...:)
"dan sering menemukan alat bicaranya pada anaknya," -> saya agak gak ngeh dengan kalimat tersebut.
btw, gmn paris? rusuh lagi bukan?

4:52 am  
Blogger anriz said...

novel berat? nggak tahu yah, nggak sih, kalimatnya aja yang agak susah dipahami karena butuh hati-hati dengan konteks dialog. kalimat-kalimatnya nggak panjang, pilihan katanya pun nggak rumit-rumit amat.

paris lagi rusuh?
ada bagian paris yang menampung kerusuhan, ya, betul. tapi nggak seluruh paris lah.

3:10 pm  

Post a Comment

<< Home