Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Monday, November 28, 2005

Dancer in the dark, Lars Von Trier: Spektakuler dan Menyentuh


Dancer in the dark, Lars Von Trier.
Memenangkan Palm d'Or Festival film Cannes 2000.

Spektakuler. Begitulah kesan yang saya rasakan sepanjang dan sesudah menonton film Dancer in the dark ini. Cara pengambilan gambar, adegan demi adegan, lagu dan tarian, plot keseluruhan, semuanya spektakuler dan mengejutkan. Sejak awal film ini penonton akan dikejutkan. Adegan latihan sebuah teater di awal film ini seolah-olah menunjukkan 'making of' sebuah film. Tapi kemudian, film dimulai. Film ini sendiri mengambil bentuk drama musikal, dengan lagu-lagu gubahan Bjork dan bersetting di pedalaman Amerika tahun 60-an.

Film ini berkisah tentang seorang imigran Cekoslovakia, Selma Jezkova,(diperankan oleh Bjork) seorang ibu yang memiliki cacat mata keturunan, hari demi hari cacatnya bertambah dan ia akan segera menjadi buta. Anaknya, Gene, menderita penyakit yang sama dan akan bernasib serupa jika tak segera dioperasi. Selma, seorang ibu yang jujur -- dan naif -- menyalahkan dirinya untuk berani menjadi seorang ibu, meski ia tahu bahwa anaknya akan bernasib sama. Ia berusaha memperbaiki kesalahannya dengan bekerja keras di pabrik baja dan menabung untuk biaya operasi Gene. Waktu Selma tak banyak, ia harus segera mendapatkan uang operasi sebelum terlambat, karena jika terlambat mata anaknya jadi taruhan.


Selma dan Gene tinggal di karavan di tanah kediaman keluarga Bill, seorang polisi lokal, dan Linda istrinya. Hubungan mereka baik, Selma tak pernah terlambat membayar uang sewa, Gene tinggal di kediaman Bill selama Selma bekerja, dan keluarga Bill bahkan menghadiahi sebuah sepeda untuk Gene. Suatu ketika dengan baik hati Selma menawarkan agar uang sewa dinaikkan, karena uang sewanya tak pernah berubah sejak ia tinggal di sana.

Bekerja di pabrik terbukti menjadi suatu aktivitas yang berbahaya bagi Selma. Penglihatannya yang semakin buruk dan suara mesin pabrik yang ritmis, membuat ia kerap menghayal berada pada sebuah teater musikal. Keadaan ini semakin membahayakan aktivitasnya di pabrik. Untunglah, ia memiliki seorang teman yang selalu menjaganya, Kathy (Catherine Deneuve). Kathy menyelamatkannya dari beberapa kecelakaan kerja yang nyaris membahayakan keutuhan tubuh Selma.

Dengan Kathy ini pula Selma berbagi kecintaannya akan teater musikal. Tiap malam, Selma dan Kathy berlatih teater musikal. Selma mendapatkan peran utama teater ini sebagai Maria, namun akhirnya ia harus mengundurkan diri dari peran ini karena ia tak lagi dapat melihat dengan baik, ia bahkan tak lagi dapat melihat batas panggung.

Suatu malam, Bill berkunjung ke karavan Selma. Ia menceritakan kesulitan keuangannya dan utangnya yang bertumpuk. Ia terancam kehilangan rumahnya. Linda tak tahu soal kesulitan keuangan ini dan berpikir bahwa Bill memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Selma menghibur Bill dengan menceritakan pula rahasianya: bahwa ia hampir buta total dan ia menabung uang yang totalnya hampir mencukupi seluruh yang ia butuhkan untuk operasi mata Gene.

Pembukaan rahasia Selma ini terbukti kemudian sebagai suatu kesalahan fatal.

Untuk melengkapi kekurangan biaya operasi dan batas terakhir pembayaran untuk operasi, Selma mengambil shift malam. Bill yang membantu memindahkan Gene ke karavan Selma, menyempatkan untuk mengobrol seadanya dengannya. Di akhir percakapan, Bill berpura-pura hendak pulang meski sebenarnya ia mengawasi Selma. Ia mendapatkan tempat disimpannya uang Selma.

Pembukaan rahasia Selma itu terbukti kemudian sebagai suatu kesalahan fatal.

Hari itu, Selma akan membayar biaya operasi Gene di sebuah klinik. Ia meminta Jeff, seorang lelaki yang mencintainya, untuk mengantarkannya ke klinik sore itu. Sepulang dari tempat kerjanya siang itu, Selma mendapatkan kotak tempat ia menyimpan uang telah kosong. Bill!

Kenaifan Selma terbukti sebagai suatu kesalahan fatal.

Selma pergi menemui Bill di rumahnya. Ia disambut oleh Linda yang mengusirnya dari karavan tempat tinggalnya, karena Bill bercerita bahwa Selma berusaha menarik perhatian suaminya itu. Selma tak menggubris, ia datang untuk meminta uangnya kembali.

Ia meminta berbicara pada Bill. Direbutnyalah uang itu dari tangan Bill. Bill mengancam Selma dengan revolvernya. Selma menolak. Bill bersikeras. Selma menolak.
Bill dan Selma terlibat perkelahian sampai suatu ketika Bill berhasil merebut kembali uangnya tapi terluka oleh revolvernya sendiri. Tapi ia tak mati. Tapi Bill ingin mati. Ia meminta Selma membunuhnya. Selma menolak. Bill bersikeras. Selma menolak. Bill bersikeras tak akan menyerahkan uang Selma, bila ia tak membunuhnya...

Adegan ini buat saya ada dalam batas psikologis yang dapat diterima oleh penonton film. Kedua protagonis berada dalam keadaan yang sulit. Harus ada yang mati, meski tak satupun dari keduanya menginginkan kematian kawan terdekat mereka sendiri. Adegan kekerasan di sini yang dimunculkan secara dramatis dan spekatkuler tak dapat tidak meninggalkan kesan bagi siapapun yang mampu menyaksikannya. Bermenit-menit berlalu. Harus ada pembunuhan, tapi tak seorangpun ingin menjadi pembunuh. Bill ingin menjadi terbunuh, Selma tidak. Uang operasi itu harus dibayar hari ini. Tak jelas pula apakah Bill benar-benar ingin mencuri uang itu ataukah ia tengah merancang sebuah bunuh diri.

Berawal dari situ film bergerak dengan cepat. Adegan demi adegan. Lagu demi lagu. Tarian demi tarian... Semua berada di dalam limit psikologis. Lars Von Trier seolah-olah menyiapkan psikologi para penontonnya untuk kemudian digoncangkan oleh adegan yang ia sajikan. Ia membuka luka demi luka, mengorek lebih dalam, memperbesarnya....

Spektakuler.

O,ya. Saya pernah menonton wawancara Bjork soal film ini. Buatnya, film ini meninggalkan kesan yang dalam dan menyakitkan. Ia menyatakan, dalam wawancara itu, bahwa ia tak mau lagi bermain film karena perannya di film ini begitu menyakitkan. Ia juga mengatakan bahwa ia tak mampu melihat film itu secara lengkap. Ia sendiri tak pernah menonton film itu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home