Faire une Pause - Timeout - Rehat

The blog contains mainly my reading activity, -- in broader sense, it includes watching film for example -- experience and my personal appreciation on what I read. Basically, I will read books in one of the three (so far) languages: Indonesian, English, French, then I will write the comment on other language than the text I read, at least I'll try to do so.

o

Sunday, October 23, 2005

Le Médecin de Cordoue, Otobiografi Maimonide

Sudah dapat diduga, seperti halnya Le Livre de Saphir, buku Le Medecin de Cordoue ini juga merupakan bagian dari saga Andalusia buat saya.

Agak sulit menulis tentang buku ini, karena narasinya disampaikan agak membosankan, sehingga saya hampir tidak berniat untuk melakukan pengecekan ulang beberapa kalimat yang saya tidak mengerti. Dan di lain pihak, saya tidak terlalu tertarik untuk membacanya ulang, tidak sampai sejarah Andalusia bisa saya dapatkan dari buku nonfiksi.
Mungkin buku saya selanjutnya tentang Andalusia akan tentang sejarah Andalusia, tapi lebih akademis. Buku ini sendiri mengundang kontroversi, karena versi sejarahnya bagi beberapa orang dianggap subversif. Tapi, saya tidak mau membahas tentang kontroversi ini, paling tidak bukan sekarang. Saya hanya akan bahas jalan cerita saja.

Buku ini, Le medecin de Cordoue, atau Dokter dari Cordoba, berisi otobiografi -- fiktif tentu saja, -- Maimonide, seorang filsuf sekaligus dokter yahudi hidup di akhir abad XI dan awal abad XII.
Otobiografi yang ditulis dalam bentuk surat dari Maimonide kepada salah seorang muridnya, ditulis oleh Maimonide dari Fostat, Mesir beberapa tahun sebelum wafatnya, tahun 1204.

Otobiografi dimulai dari masa mudanya, di Cordoba, Andalusia. Saat itu, Cordoba digambarkan seperti kebanyakan cerita tentang Cordoba, yakni sebuah kota indah berkebudayaan tinggi di mana toleransi antar penganut agama Islam, Yahudi, dan Kristen, terselenggara dengan baik. Anak-anak muda, terutama Yahudi dan Islam, bersekolah di tempatnya masing-masing, membuat ilmu pengetahuan berkembang dengan baik.

Saat itu Maimonide muda digambarkan sebagai pemuda yang haus ilmu pengetahuan. Ia senang sekali bertandang ke tempat salah seorang pamannya, Joad, tukang daging. Dari dialah ia banyak belajar tentang hidup, dan terutama darinyalah ia dapat memuaskan keingintahuannya pada anatomi hewan.

Ia kemudian menemukan seorang filsuf besar Cordoba saat itu, dan mulailah ia berguru pada sang filsuf ini. Sang filsuf besar ini tak lain adalah Ibnu Rushdi, seorang filsuf Islam yang sangat dihormati oleh para pemikir Barat selanjutnya. Sang filsuf, tertarik dengan keingintahuan Maimonide, dengan sangat senang hati menerimanya sebagai murid. Dari Ibnu Rushdi, atau Averroes, ini ia banyak belajar mengenai matematika, asronomi, kedokteran, dan filsafat. Digambarkanlah, kemudian Maimonide belajar banyak dari sang filsuf.Darinya pula ia mengenal ilmu kedokteran yang pada waktu itu banyak didapat dari buku Ibnu Sina.

Saat itu, Cordoba sendiri berada di dalam ancaman dua kekuatan. Pertama, adalah ancaman dari Spanyol yang note bene Kristen. Dan, kedua, ini yang digambarkan lebih besar dan berbahaya, adalah ancaman dari Maroko, Al Mohad. Al Mohad digambarkan sebagai kekuatan fanatis Islam yang hendak mendirikan satu kalifah di bawah satu ajaran, ajaran Islam. Di bawah tekanan politik inilah, Maimonide dan Averroes hidup.

Averroes, digambarkan sebagai orang yang berpikir sangat bebas, tak dibatasi oleh doktrin-doktrin agama. Hal ini tidak disukai oleh rabbi Maimon, ayah Maimonide. Sang rabbi tidak lagi dapat mentoleransi kelakuan Maimonide yang melakukan pesta bersama Averroes dan murid-muridnya, dimana seorang budak wanita dilibatkan dalam pesta tersebut. Karena konflik dengan ayahnya inilah, Maimonide memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, untuk pergi ke Toledo, dengan dukungan Joad dan Averroes.

Di Toledo, Maimonide menekuni lebih lanjut ilmu kedokteran di bawah Avensole, seorang dokter yang sangat mencintai ilmu kedokteran dan sangat senang bekerja dengan mayat-mayat manusia. Selama bersama Avensole, Maimonide bekerja pula di rumah sakit, di mana ia banyak menangani kasus-kasus secara langsung.

Beberapa tahun sejak kepergian Maimonide ke Toledo, Cordoba jatuh ke tangan Al Mohad, di bawah pimpinan Al Manshour. Di bawah kepemimpinannya, ia memerintahkan seluruh penduduk Cordoba untuk mengubah agamanya ke Islam, atau pergi meniggalkan Cordoba. Sementara itu, ia juga memerintahkan agar universitas Cordoba hanya mengajarkan ilmu-ilmu Al Quran. Sang penguasa bahkan membunuh pimpinan universitas yang tidak setuju, dan lagi memerintahkan pembakaran seluruh buku-buku ilmu sekular, terutama filosofis. Averroes sendiri mengungsi ke Almeria, sebuah kota laut di Andalusia. Ia mengungsi karena merasa terancam hidupnya, terutama karena bukunya Les Trois Imposteurs, Ketiga Pemaksa, atau lebih kuat lagi Ketiga Penipu yang mengandung kritik tajam pada tiga agama, Yahudi, Islam, dan Kristen. Sebelum Averroes mengungsi ke Almeria, ia sempat mengirimkan surat pada keluarga Maimonide, yang berisi kesediaannya untuk menerima keluar Maimonide di Almeria.

Keluarga Maimonide sendiri memutuskan untuk tinggal di Cordoba dan berpura-pura memeluk agama Islam. Satu ketika, hari itu Sabbat, pihak penguasa mengetahui Joad, sang paman tukang daging, tidak mau mengangkat pisau sesuai tradisi Sabbat. Joad lantas dihukum, ia dihukum digantung. Di pinggangnya, diselipkan pisau yang ia dapat gunakan untuk memotong tali gantungannya. Namun, untuk menghormati Sabbat, Joad memilih tidak menggunakan pisau tersebut. Kematian Joad ini mendorong keluarga Maimonide untuk mengungsi, dan Almerialah tempat tujuan mereka, tempat kediaman Averroes.

Cerita kemudian berlanjut di Almeria, di mana Maimonide dan adiknya David serta sang ayah Maimon, tinggal di kediaman Averroes. Kehidupan di Almeria cukup menyenangkan bagi mereka bertiga, tapi tentu saja mereka tak dapat melupakan Cordoba. Tak lama setelah Averroes meninggalkan Almeria untuk menikah lalu kemudian meninggal, mereka memutuskan untuk meninggalkan Almeria menuju Maroko, Fez. Di Fez ini mereka hampir saja dihukum mati karena kedapatan melakukan puasa di hari Kippour, hari besar Yahudi.

Akhirnya, mereka pindah ke Mesir, di tempat toleransi masih cukup terpelihara. Di Mesir inilah, Maimonide mengenal Saladin, seorang panglima perang Islam asal Irak yang sangat terkenal. Ia bertindak sebagai dokter dan juga teman dekat Saladin. Ketika Saladin berhasil mendapatkan Yerusalem, ia bahkan menghadiahkan Yerusalem pada Maimonide. Maimonide menolaknya, karena ia yakin anak-anak Saladin akan merebutnya kembali begitu Saladin wafat.

Begitulah, otobiografi Maimonide. Otobiografi ini seolah-olah hendak menunjukkan bahwa apa yang dikenal zaman keemasan Islam di Andalusia itu tidak ada. Al Mohad adalah rezim yang melakukan hukuman mati, dan anti ilmu pengetahuan. Averroes, digambarkan sebagai orang yang hampir atheis, karena menyebut ketiga agama sebagai penipu. Semua tentunya jadi bahan perdebatan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home